http://irbob-sevenfold.blogspot.com/ | http://www.fashionhairstylestrends.blogspot.com/ | http://www.irbobcueg.blogspot.com/

10 Detik Dalam Diam

Sudah hampir seminggu kelopak mataku yang sebelah kiri sering berdenyut. Orang Jawa biasa menyebutnya dengan kata "kedutan". Dalam buku ramalan orang Jawa (primbon) kedutan memiliki arti, tergantung dibagian tubuh mana kedutan itu terasa. Aku sebenarnya tidak mempercayai hal-hal seperti ini. Tapi sejak beberapa tahun ini aku memperhatikan tanda-tanda (firasat) kedutan pada diriku sendiri. Aku memiliki arti firasat kedutan yang artinya hanya berlaku untuk diriku sendiri, yaitu apabila aku kedutan di kelopak mata bawah kanan atau kiri, biasanya aku akan bersedih atau menangis. Kalau di kelopak mata atas sebelah kanan, biasanya ada sesuatu yang akan membuat aku gembira. Sedangkan kalau kedutan di kelopak mata atas sebelah kiri, biasanya aku akan bertemu dengan seseorang yang aku sayangi. Entah itu dari masa lalu atau saat sekarang.

Maka itu aku sempat berkata pada seorang temanku, "Udah beberapa hari kelopak mata kiri gue kedutan terus. Mau ketemu siapa ya gue?" Temanku dengan santai menjawab, "Mau ketemu mas D**** kali lo...!" Aku menghela nafas panjang... Masa sih? Tidak, jangan... aku tidak mau bertemu dengannya lagi. Setidaknya untuk saat ini. Kalau boleh aku memilih, pertemukan saja aku dengan orang lain selain dia. Tapi siapa? Saat ini tak ada siapa-siapa di hatiku. Jadi kemungkinan terbesar pasti aku bertemu dia! Ah... so stupid! Ini cuma kedutan, kok aku begitu yakin sih? Aku pun tak mau peduli lagi meski hingga sore tadi kelopak mata kiriku masih kedutan juga.

Sejak pagi, aku sudah berencana untuk pergi ke mall sepulang kerja. Ada beberapa barang yang perlu aku beli. Maklum hari ini akhir bulan - hari terakhir dibulan November, semua keperluan sehari-hari di kost sudah habis. Sekalian aku juga mau makan malam di mall, bosan rasanya makan di kost sendirian tiap hari. Jadi begitu jam kerjaku usai aku buru-buru meninggalkan kantor, takut keburu macet dan kemalaman.

Akhirnya selepas magrib aku sudah berada di mall. Meski sendiri tapi aku tetap bisa enjoy untuk urusan belanja. Aku putuskan untuk putar-putar melihat-lihat baju dulu, beli keperluan kost bisa nanti kalau sudah mau pulang. Aku menyusuri lantai satu hingga lantai tiga. Mataku bertamasya melirik deretan baju-baju yang dipakai oleh manekin-manekin bertubuh proposional dan baju-baju yang tergantung di rak-rak baju. Kalau ada baju yang menarik hatiku baru aku akan mendekat untuk melihat model dan bahannya lebih jelas sekaligus mengintip harganya.

Kali ini baju-baju di mall itu tidak ada yang bagus dan cocok untuk aku. Akhirnya aku memutuskan untuk turun saja ke lantai dasar dan berbelanja keperluan harianku. Aku berjalan santai menuju eskalator turun. Tapi tiga meter sebelum sampai ke eskalator aku merasa ada seseorang disampingku. Aku merasa dia memperhatikanku. Aku tidak ingat dia memanggilku atau tidak. Yang aku ingat saat itu hanyalah keinginanku untuk menoleh kesebelah kiri. Aku berusaha tak peduli dan terus melangkah melewati sosok itu. Tapi seperti ada magnet kuat yang menarik aku untuk membalikkan badanku. Dan ya, aku membalikkan badanku! Ternyata... Oh Tuhanku... Dia!!! Iya dia!!! Aku seperti bermimpi. Dia berdiri dihadapanku! Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat! Once again aku teryakini bahwa firasat kedutanku benar adanya! Oooh... Aku menyesal kenapa aku harus mengikuti kata hatiku untuk membalikkan badanku??

"Hi..." Dia menyapaku pelan. Aku tak tahu harus berkata apa. Aku mengadahkan wajahku menatap wajahnya... Wajah yang sangat kukenal. Tak ada yang berubah dari wajahnya. Dua mata kecil bulat berwarna hazel menatapku lewat kacamatanya. Kami tak berkata apapun. Diam. Saling menatap. Bisa aku pastikan kami saling diam dan menatap selama 10 detik. Hingga akhirnya dia membuka mulut, "I wish I could just walk away and pretending I didn’t see you… But I couldn't..." Aku masih diam tapi hatiku berbicara, "Yeah, you wish! You can’t deny me! Mataku saat itu menyapu sekeliling secara sekilas. Tak ada siapa-siapa. Dia sendiri... Tangannya memegang bungkusan plastik putih, sepertinya dia baru membeli sesuatu. Aku masih terdiam, dia juga... dan aku merasa orang-orang disekitar tempat kami berdiri mematung mulai memperhatikan kami. Tapi aku tak tahu apa yang harus aku lakukan...

"Are you okay?" Dia kembali bersuara. "Ya ya... I’m okay..." Aku cepat menjawab untuk mencairkan suasana. "Damn, actually I’m really not okay!" Hatiku berteriak tak setuju.
"As I said, I wish I could just walk away... " Dia mengulang kata-katanya. "Did you see me?" Hmmm... Dia mengharap aku menoleh karena aku melihatnya, GR banget ya? "No, I don't notice people around and they who cross my path" Aku menjawab acuh tak acuh.
"Your hair is longer now..." Dia masih menatap wajahku. "Hah! How many years you didn’t see me??" Aku menjawab sinis. "Do you want to talk? Or you still can’t talk to me?" Dia bertanya. Dengan cepat aku menjawab "No, I can’t!"
"Do you have to go now?" Dia kembali bertanya. "Oy, what do you expect?? Find a cafe and talk again like nothing happened??" Hatiku mulai memaki.
"Yes, I’m here to buy clothes and some stuff, so I have to go now..." Aku tak mau lebih lama dalam kekakuan ini. Aku harus pergi!
"Oh okay, me too.. I... ... (bla bla bla)" Aku tak lagi memperhatikan apa yang dia katakan. Aku bergegas membalikkan badanku dan berkata, "Bye!" Lalu aku berjalan cepat menuju eskalator. Tidak menoleh lagi. Persis seperti yang aku lakukan terakhir kali bertemu dengannya. Aku tak tahu apakah tadi dia masih berdiri disitu dan melihatku berjalan menuju eskalator atau dia juga pergi begitu saja. Tapi apakah itu penting untuk aku ketahui?


Ini suatu kebetulan yang aneh. Sebelumnya sekalipun aku tidak pernah pergi ke mall ini bersamanya. Dulu saat kami masih bersama, dia selalu membawaku pergi ke mall-mall yang bagus. Mall ini bukan "kelas"nya. Makanya aku tak pernah menyangka bahwa aku akan bertemu dengannya di tempat itu. Tuhan... Mengapa kau pertemukan aku dengannya lagi? Aku baru mencoba melupakannya, dan aku berhasil... Oh, maksudku... sedikit berhasil! Kini serasa otakku mulai flashback, seperti slide yang berputar nonstop. Congrats, Desi... Nightmare is back!

Aku memang pernah berharap untuk bertemu dengannya lagi. Tapi bukan seperti tadi! Aku berharap bertemu dengannya saat ada seseorang disampingku. Supaya dia bisa melihat bahwa aku baik-baik saja... bahwa aku bisa melupakannya... bahwa aku mampu menemukan orang lain yang bisa membuatku bahagia... Kenapa aku harus bertemu dengannya saat aku seorang diri? Meskipun dia juga sendiri saat itu, but... I wasn't ready!

Mungkin aku harus lebih menyiapkan diriku untuk kejadian-kejadian tak terduga yang lainnya. Mungkin akan ada kebetulan-kebetulan selanjutnya karena dia sudah menetap di negara ini, di kota ini. Dan mungkin nanti aku akan lebih siap dan santai menghadapinya... Tidak akan ada lagi 10 detik dalam diam tanpa kata. Mungkin bila suatu hari aku bertemu dengannya lagi, aku akan mampu berkata, “You’re an asshole, babe!”


 *  *  *  *  *
Read the previous post:  22 Oktober 2010

Free Register Here Cpx24.com CPM Program