Ayahku, harus kuakui dia adalah seorang sosok yang sederhana dan begitu setia pada istrinya. Ayahku bukan orang kaya. Kehidupan kami benar-benar sangat sederhana tapi ayahku tidak pernah menyembunyikan satu sen pun uang dari ibuku. Lalu ayahku juga tak pernah melarang ibuku untuk pergi keluar rumah bahkan keluar kota tanpanya, tidak seperti kebanyakan suami-suami di kampung yang membatasi istrinya untuk melakukan ini dan itu. Ayahku sangat menyayangi keluarga. Tanpa kusadari sering kali aku mencari lelaki yang memiliki karakter seperti ayahku, setidaknya mirip.
Tapi satu hal yang kadang membuatku kesal adalah kekhawatirannya yang berlebihan. Ayahku mudah sekali menjadi panik. Dulu waktu aku kecil, seringkali aku marah padanya karena aku merasa dia cerewet sekali. Saat teman-teman yang lain bisa pulang ke rumah mereka sesukanya, beda dengan aku. Ayahku akan panik setengah mati kalau sedikit saja aku telat sampai di rumah. Bisa-bisa tetangga satu kampung ditanya semua untuk tahu keberadaanku. Benar-benar bikin malu aku…
Ternyata kepanikannya tidak berhenti juga saat anak-anaknya sudah dewasa. Dia akan menelepon kami kalau dia pikir kami sudah keluar rumah terlalu lama. Kadang baru jam 7 atau 8 malam ayahku sudah menelepon berkali-kali kalau kami belum ada di rumah. Agak berbeda dengan ibuku yang lebih santai, makanya dia tidak pernah menelepon menanyakan kami ada dimana kalau tidak terlalu penting. Apalagi kalau aku pergi pakai motor, baru 1 jam pergi pasti dia sudah menelepon untuk tahu aku sudah sampai ditujuan dengan selamat atau tidak. Yah memang itu wujud kasih sayangnya, tapi kadang repot juga ya… Misalnya ditengah-tengah date sama cowok tahu-tahu teleponku berdering-dering tiada henti, ternyata yang menelepon adalah si panik ayahku. Waaah... Pasangan ngedate aku bisa mengira aku bukan wanita dewasa!
Lebih lucu lagi kalau kami sedang menonton tv bersama-sama. Dan kalau kebetulan ada adegan yang sedikit panas biasanya ayahku langsung memindahkan channel tv itu. Hahahaaa... Mungkin dia lupa berapa umur anak-anaknya sekarang. Ayahku pun masih sering mengingatkan aku untuk sikat gigi sebelum tidur dan cuci kaki. Kupikir cuma anak usia SD saja yang masih harus diingatkan seperti itu. Aku tak tahu kenapa. Mungkin memorinya tertinggal dimasa lalu atau ia tak ingin kami menjadi dewasa dan meninggalkannya. Sampai kapanpun aku rasa ayahku akan tetap menganggap kami adalah putri-putri kecilnya. Dan itu adalah ekspresi dan ungkapan kasih sayangnya...
I love you, Dad... Maaf kalau aku memilih untuk hidup sendiri di kost sekarang. Walau berulang kali kau meminta aku untuk kembali ke rumah dan mencari kerja yang dekat dengan rumah saja. Seperti hari ini kau meneleponku berulang kali karena selama weekend kemarin aku sedikit sakit karena darah rendah dan luka di kakiku. Aku tahu kau mengkhawatirkanku... Tapi aku akan baik-baik saja dan bisa menjaga diriku sendiri. Thank you for being a good father for me...
