http://irbob-sevenfold.blogspot.com/ | http://www.fashionhairstylestrends.blogspot.com/ | http://www.irbobcueg.blogspot.com/

Lagu Cinta Untuk Ulang Tahun

Aku menulis cerita ini untuk mengikuti Lomba Menulis Flash Fiction “Pengamen Cinta” yang diadakan oleh Ceko dan LeutikaPrio Publisher. Tema tulisan tentang kisah cinta, persahabatan, atau keluarga musisi jalanan. Persyaratan panjang tulisan antara 300-500 kata.

*  *  *  *  *

NEW UPDATE (February 13, 2011):
Tulisan ini terpilih untuk diterbitkan dalam sebuah buku antologi tentang pengamen oleh leutika Publisher.

*  *  *  *

Tulisan ini sepanjang 2 halaman dan terdiri dari 499 kata.
Aku mendapatkan ide cerita ini karena aku tahu cinta mampu membuat orang mau mengorbankan miliknya yang berharga demi orang yang dicintainya... :)

*  *  *  *  *


LAGU CINTA UNTUK ULANG TAHUN


Aku berlari-lari melewati gang kecil yang becek untuk segera menemui Wendy. Di telingaku selalu terngiang nada-nada lagu itu, aku juga ingat liriknya. Aku sangat mengenal lagu itu. Kini lagu itu banyak diputar di radio-radio dan televisi.
Aku pun tiba didepan sebuah tempat kost kecil dan kumuh. Pintunya berwarna coklat tua dan tertutup rapat. Di kamar berukuran 3 x 3 meter itulah Wendy tinggal sendiri.
“Wen...” Aku memanggil sambil mengetuk pintu.
Tidak ada sahutan. Tak ada sandal didepan pintu, jadi kemungkinan Wendy tidak ada. Pasti dia sedang mengamen.
Aku duduk diatas bangku kayu didepan kost Wendy. Kepalaku tertunduk, pikiranku resah dipenuhi berbagai pertanyaan.
Tak lama sepasang kaki bersendal jepit muncul dihadapanku. Aku mengangkat kepalaku dan beranjak dari tempat dudukku.
“Wen, aku menunggu kamu...” Kami berpelukan erat.
Kemudian kami masuk ke kamar kostnya yang sempit.
“Kamu sakit, Wen? Kenapa masih ngamen juga bukannya istirahat?” Aku khawatir karena wajah Wendy tampak pucat.
“Nggak apa-apa, sedikit flu aja, kemarin kehujanan waktu mengamen di Pancoran...” Wendy mengambil gitarnya dan mulai memainkan nada-nada sendu.
“Kenapa kamu tiba-tiba sekali datang kesini, bagaimana kuliahmu?”
“Nggak usah tanya kuliah! Ada yang lebih penting untuk kita bicarakan, makanya aku kesini...” Aku menatap matanya yang tidak bersinar hari itu.
“Wen, ada lagu yang lagi hit sekarang, itu lagumu kan? Aku kenal lagu itu, kamu menyanyikannya waktu ulang tahunku...”
Kini mata wendy menerawang menatap tembok yang warnanya sudah dekil, tidak putih lagi. Bahkan dibeberapa tempat cat itu sudah mulai mengelupas.
            “Wen, kenapa kamu diam? Jawab aku!” Aku berharap Wendy segera menjawab tapi dia hanya menarik nafas panjang.
            “Iya, itu laguku! Lagu yang aku ciptakan untukmu. Lagu cintaku...” Wendy tertunduk.
            “Lalu? Kenapa band itu bilang itu lagu mereka??” Aku tak sabar menunggu jawaban Wendy.
            “Kenapa? Karena... Mereka sudah memberiku uang...”
            Wendy kembali menarik nafas panjang.
            “Aku tak mengira lagu itu akan menjadi hit! Aku menyanyikan lagu itu sewaktu aku mengamen di restoran didepan mall yang baru itu. Seorang laki-laki menghampiriku dan kita kemudian mengobrol...”
            “Ya, lalu?”
            “Lalu akhirnya dua hari kemudian aku menyetujui menandatangani perjanjian dan dia memberiku sejumlah uang. Lagu itu jadi miliknya!”
            “Kenapa kamu lakukan itu?? Kamu menjual hasil karyamu yang berharga! Untuk apa uang itu, Wen??” Aku kecewa sekali.
            “Aku tak berpikir panjang dan tak pernah terpikir bahwa lagu itu akan terkenal seperti sekarang... Aku tidak bisa apa-apa, aku terikat perjanjian. Aku tak bisa mengakui lagu itu karyaku...” Terlihat sesal di wajah Wendy.
            “Maafkan aku... Tapi aku sangat ingin membahagiakanmu. Aku tidak punya apa-apa. Hingga saat ada yang menawarkanku sejumlah uang untuk membeli laguku, aku langsung menerimanya.”
            Hening.
            “Waktu itu aku perlu uang... Aku ingin pergi ke Jogja untuk menemuimu... Aku ingin hadir pada pesta ulang tahunmu dan memberimu hadiah ulang tahun...”
            Mataku mulai berkaca-kaca.
            “Aku tak ingin datang seperti gembel! Aku tak mau orang tuamu menghinaku. Aku tak mau teman-temanmu tahu kalau aku hanya seorang pengamen di Jakarta...
            Wendy mengusap kepalaku.
            “Maafkan aku telah menjual ungkapan cintaku padamu... Maafkan aku...”
            Aku memeluk Wendy dan mulai menangis tersedu-sedu.
“Sayang, teramat mahal kau harus membayar untuk sebuah pesta ulang tahun...”

Free Register Here Cpx24.com CPM Program