Flash Fiction ini aku tulis untuk mengikuti Lomba Menulis Flash Fiction tentang Perjodohan yang diadakan oleh Hasfa Publisher.
Pengalaman/kisah tentang perjodohan atau berimajinasi mengalami perjodohan. Persyaratan tulisan antara 300-500 kata.
* * * * *
Tulisan ini sepanjang 2 halaman terdiri dari 499 kata.
Mulanya aku benar-benar tak tahu apa yang harus aku tulis. Karena aku tidak pernah (belum?) mengalami perjodohan selain ditanya-tanya “Kapan menikah?” dan selalu aku jawab “Kapan-kapan!”
Mulanya aku benar-benar tak tahu apa yang harus aku tulis. Karena aku tidak pernah (belum?) mengalami perjodohan selain ditanya-tanya “Kapan menikah?” dan selalu aku jawab “Kapan-kapan!”
Akhirnya aku mencoba berimajinasi kalau aku dijodohkan. Tetapi naluri asliku ikut bermain disini sebagai pemberontak yang mencintai kebebasan! :)
* * * * *
MAWAR PUTIH
Aku tahu orang tuaku sudah mulai “gerah” dengan berbagai omongan orang-orang dan juga sanak saudara. Saudara dekat maupun jauh, sama saja!
“Kapan putrinya menyusul?”
“Sudah pantas lho, Bu untuk punya cucu...”
“Putrinya sudah kerja kan ? Tunggu apa lagi?”
Di pesta-pesta pernikahan, kedua orang tuaku dan juga aku, harus bersabar menghadapi berbagai pertanyaan macam itu. Mendengarkan cerita bahagia para orang tua dan pasangan yang telah menikah adalah menu yang tidak bisa dipilih, harus ditelan. Menu wajib yang tidak enak rasanya!
Kenapa semua orang seperti mengurusi hidupku? Kenapa sepertinya mereka ingin aku mengikuti alur hidup mereka? Selesai sekolah atau kuliah lalu bekerja sebentar dan kemudian menikah. Tak lama mulai direpotkan dengan kehadiran anak yang terlalu cepat, lebih cepat dari bertambahnya jumlah tabungan mereka.
Rangkaian bunga mawar putih itu tampak indah diatas meja komputer di kamarku. Ibuku yang meletakkannya disana. Tak perlu dimasukkan kedalam vas yang diisi air karena sudah ada gel di keranjang bagian bawah yang menjaga bunga-bunga itu tetap segar.
Bunga itu dari Pak Yuda. Aku memanggilnya bapak karena dia telah menikah dan memiliki seorang anak. Usianya belum sampai empat puluh tahun. Dia tetangga budeku yang tinggal di Bekasi. Budeku yang memperkenalkan Pak Yuda dengan keluargaku sebulan yang lalu.
Menurut cerita bude, Pak Yuda menikah di usia 35 tahun. Dia bekerja keras hingga terlambat menikah dibandingkan dengan teman-temannya. Enam bulan yang lalu istrinya meninggal dunia karena kecelakaan mobil dan meninggalkan anaknya yang kini berusia tiga tahun.
Saat orang tuaku mengatakan Pak Yuda ingin ke rumah dan menemuiku, aku sudah tahu maksud dibalik pertemuan itu. Pak Yuda sedang mencari istri baru, juga ibu baru untuk anaknya.
Berulang kali orang tuaku menelepon aku di kost untuk pulang ke rumah sebelum Pak Yuda datang. Aku tahu orang tuaku sangat berharap aku mau menikah dengannya. Kalau tidak, mereka tak kan cerewet mengingatkan aku jangan sampai tak datang.
Aku merasa tersinggung, kecewa, dan... sedih! Meskipun mereka orang tuaku. Meskipun dengan berbagai dalih dan kata-kata manis bahwa itu semua demi kebaikanku dan demi... hidupku! Hidup yang sudah 29 tahun kujalani.
Lalu apa yang mereka tahu tentang hidupku? Tentang rencanaku? Tentang cita-citaku? Tentang mimpi-mimpiku? Aku tak perlu membantah untuk menunjukkan bahwa aku tidak setuju dengan perjodohan ini. Lebih baik diam daripada aku berkata, karena mungkin kata-kataku akan menyinggung perasaan mereka.
Aku termenung sejenak dan menarik nafas. Ini hidupku... dan aku bebas menentukan apa yang aku inginkan dalam hidupku! Aku mengambil pena dan mulai menulis diatas kartu berwarna putih itu...
“Terima kasih atas mawah putih yang indah ini, Pak. Tapi maaf, aku lebih menyukai mawar kuning. Kuning adalah lambang ide dan kebebasan, dimana kebebasan adalah sesuatu yang sangat mahal dan sulit untuk didapat. Saat ini belum ada yang bisa membeli kebebasanku. Akupun belum rela memberi kebebasanku pada siapapun...”
